Gaya Bahasa (Majas)
Bahasa Indonesia
Pengertian, klasifikasi, kaidah, dan contoh pembahasan lengkap — disusun berdasarkan Gorys Keraf dalam buku Diksi dan Gaya Bahasa.
Peta Kategori
Pengertian & Syarat
A. Gaya Bahasa Berdasarkan Pilihan Kata (Diksi)
Kategori ini dibedakan berdasarkan jenis kata dan ragam bahasa yang dipilih penutur sesuai dengan situasi komunikasi.
Definisi — Gaya bahasa yang dipakai dalam kesempatan-kesempatan resmi, misalnya pidato kenegaraan, surat resmi, atau karya ilmiah, dengan menggunakan bentuk bahasa baku dan lengkap secara struktural.
Kaidah & Ciri
- Menggunakan ragam bahasa baku sesuai kaidah tata bahasa yang berlaku.
- Struktur kalimat lengkap (ada subjek, predikat, objek/keterangan yang jelas).
- Digunakan dalam situasi formal seperti pidato, surat dinas, dan karya ilmiah.
Contoh & Pembahasan
“Dengan ini kami sampaikan bahwa kegiatan wisuda akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 20 Agustus 2026.”
PembahasanKalimat menggunakan struktur lengkap dan diksi baku 'dengan ini kami sampaikan' yang lazim dipakai dalam surat resmi.
“Pemerintah menghimbau seluruh masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan demi kepentingan bersama.”
PembahasanDiksi 'menghimbau', 'mematuhi', dan 'demi kepentingan bersama' mencerminkan ragam resmi kenegaraan.
“Sehubungan dengan surat Saudara tertanggal 1 Agustus 2026, kami sampaikan bahwa permohonan tersebut telah kami setujui.”
PembahasanStruktur formal surat dinas dengan kalimat lengkap dan kata sapaan resmi 'Saudara'.
Definisi — Gaya bahasa yang dipakai dalam situasi tidak resmi, menggunakan ragam bahasa standar namun tidak selengkap gaya resmi, biasa dipakai dalam tulisan populer atau percakapan semi-formal.
Kaidah & Ciri
- Menggunakan bahasa standar tetapi lebih longgar strukturnya dibanding gaya resmi.
- Lazim dipakai dalam artikel populer, esai santai, atau obrolan semi-formal.
- Tidak menggunakan bahasa gaul atau slang murni.
Contoh & Pembahasan
“Kalau menurutku, ide itu bagus juga buat dicoba di kelas kita.”
PembahasanKata 'kalau menurutku' dan 'buat dicoba' bersifat standar tetapi santai, cocok untuk suasana diskusi tidak resmi.
“Acaranya seru banget, banyak yang datang meski hujan deras.”
PembahasanDiksi 'seru banget' menunjukkan keakraban namun tetap menggunakan tata bahasa yang benar.
“Sebenarnya tugas ini nggak terlalu susah kok, cuma butuh waktu lebih lama.”
PembahasanPenggunaan kata 'nggak' dan 'kok' menandai situasi tak resmi tanpa menghilangkan kejelasan makna.
Definisi — Gaya bahasa yang dipakai dalam percakapan sehari-hari, banyak memakai kata-kata populer, singkatan, dan bentuk-bentuk lisan yang akrab.
Kaidah & Ciri
- Menggunakan kosakata populer sehari-hari, termasuk singkatan dan bentuk lisan.
- Struktur kalimat sering tidak lengkap karena mengikuti pola bahasa lisan.
- Bersifat spontan dan akrab, dipakai antarteman atau keluarga.
Contoh & Pembahasan
“Udah makan belum? Yuk, ke kantin bareng!”
PembahasanKalimat elips (subjek dihilangkan) dan kata sapaan akrab 'yuk' khas bahasa lisan sehari-hari.
“Gue duluan ya, ada janji sama dia jam segini.”
PembahasanPenggunaan kata ganti 'gue' menunjukkan ragam percakapan informal masyarakat urban.
“Ntar malem jadi nonton, nggak?”
PembahasanSingkatan 'ntar' dan 'malem' serta kalimat tanya pendek adalah ciri gaya percakapan lisan.
B. Gaya Bahasa Berdasarkan Nada
Kategori ini dibedakan berdasarkan suasana atau nada emosional yang terkandung dalam sebuah wacana.
Definisi — Gaya bahasa yang cocok untuk memberi instruksi atau pelajaran, sifatnya ringkas dan langsung, tanpa banyak hiasan.
Kaidah & Ciri
- Kalimat singkat, jelas, dan tidak berbelit.
- Cocok untuk instruksi, laporan, atau eksposisi ilmiah sederhana.
- Menghindari kiasan dan hiasan bahasa yang berlebihan.
Contoh & Pembahasan
“Masukkan tepung, aduk rata, lalu panggang selama tiga puluh menit.”
PembahasanKalimat instruksi langsung tanpa kiasan, ciri khas gaya sederhana.
“Air mendidih pada suhu seratus derajat Celsius di permukaan laut.”
PembahasanPernyataan faktual ilmiah yang lugas tanpa unsur emosional.
“Silakan isi formulir ini dengan data yang benar.”
PembahasanKalimat perintah sederhana, jelas, dan efisien untuk keperluan instruksional.
Definisi — Gaya bahasa yang penuh dengan vitalitas dan energi, biasa dipakai untuk menggerakkan sesuatu, menggugah emosi, dan membangkitkan semangat, misalnya dalam pidato perjuangan.
Kaidah & Ciri
- Bernada agung, penuh semangat, dan menggugah emosi pendengar.
- Sering memakai kalimat seruan, pengulangan, dan kata-kata bermuatan emosi tinggi.
- Lazim digunakan dalam pidato perjuangan atau orasi kebangsaan.
Contoh & Pembahasan
“Bangkitlah, wahai putra-putri bangsa, rebut kembali kemerdekaan yang telah lama kita rindukan!”
PembahasanKalimat seruan dengan diksi heroik 'bangkitlah' dan 'rebut kembali' membangkitkan semangat juang.
“Kita tidak akan pernah menyerah, sampai titik darah penghabisan!”
PembahasanUngkapan hiperbolis dan tegas menunjukkan tekad besar, khas gaya bertenaga dalam orasi.
“Mari kita satukan langkah, satukan tekad, demi tanah air tercinta!”
PembahasanRepetisi kata 'satukan' memperkuat semangat kebersamaan dan nada mulia perjuangan.
Definisi — Gaya bahasa yang bernada lemah lembut, penuh kasih sayang dan kepribadian yang halus, umumnya dipakai untuk menciptakan suasana senang dan santai.
Kaidah & Ciri
- Bernada lembut, hangat, dan penuh keakraban.
- Sering dipakai dalam surat pribadi, dongeng, atau tulisan yang bersifat menghibur.
- Menghindari nada tegang atau menggebu-gebu.
Contoh & Pembahasan
“Duduklah di sini, Nak, biar Ibu ceritakan kisah sebelum kau tidur.”
PembahasanNada lembut dan penuh kasih terlihat dari sapaan 'Nak' dan suasana yang tenang.
“Senja itu begitu tenang, seakan alam pun ikut tersenyum bersama kami.”
PembahasanSuasana damai dan hangat dibangun lewat personifikasi alam yang lembut.
“Terima kasih sudah menemaniku hari ini, semoga besok kita bisa jalan-jalan lagi.”
PembahasanUngkapan santai dan penuh kehangatan personal, khas gaya menengah.
C. Gaya Bahasa Berdasarkan Struktur Kalimat
Kategori ini terbentuk berdasarkan letak unsur yang dipentingkan dalam sebuah kalimat atau berdasarkan urutan bagian-bagian kalimat.
Definisi — Gaya bahasa yang mengandung urutan pikiran, di mana tiap gagasan berikutnya lebih penting atau lebih tinggi kedudukannya daripada gagasan sebelumnya.
Kaidah & Ciri
- Urutan gagasan disusun dari yang paling rendah/kecil ke yang paling tinggi/besar.
- Digunakan untuk membangun ketegangan atau penekanan bertahap.
- Umumnya memakai kata penghubung seperti 'bahkan', 'apalagi'.
Contoh & Pembahasan
“Bukan hanya puluhan, ratusan, bahkan ribuan warga turun ke jalan menuntut keadilan.”
PembahasanUrutan 'puluhan-ratusan-ribuan' menanjak dari kecil ke besar, membentuk klimaks.
“Ia berjuang dari siswa biasa, menjadi juara kelas, lalu juara nasional, hingga akhirnya juara dunia.”
PembahasanTahapan prestasi disusun meningkat, menegaskan puncak pencapaian di akhir kalimat.
“Kesalahan kecil itu berubah menjadi masalah besar, lalu krisis, dan akhirnya bencana bagi perusahaan.”
PembahasanEskalasi dari 'masalah' ke 'krisis' hingga 'bencana' menampilkan tingkatan yang kian memuncak.
Definisi — Kebalikan dari klimaks; gagasan diurutkan dari yang paling penting/tinggi berturut-turut ke gagasan yang kurang penting.
Kaidah & Ciri
- Urutan gagasan disusun menurun dari yang paling penting ke yang kurang penting.
- Sering dipakai untuk memberi gambaran cakupan secara menyeluruh dari besar ke kecil.
Contoh & Pembahasan
“Presiden, para menteri, gubernur, hingga kepala desa turut hadir dalam acara itu.”
PembahasanUrutan jabatan menurun dari yang tertinggi ke yang lebih rendah menunjukkan pola antiklimaks.
“Seluruh negara, provinsi, kabupaten, sampai ke pelosok desa merasakan dampak kebijakan ini.”
PembahasanCakupan wilayah diurutkan dari yang terbesar ke yang terkecil.
“Para direktur, manajer, staf, sampai peserta magang diundang dalam rapat tahunan itu.”
PembahasanStruktur hierarki organisasi disusun menurun dari posisi tertinggi ke posisi paling rendah.
Definisi — Gaya bahasa yang berusaha mencapai kesejajaran dalam pemakaian kata atau frasa yang menduduki fungsi yang sama dalam bentuk gramatikal yang sama.
Kaidah & Ciri
- Unsur-unsur kalimat yang sejajar memiliki bentuk gramatikal yang sama.
- Sering dipakai dalam puisi atau pidato untuk menciptakan irama.
- Kesejajaran dapat berupa pengulangan struktur frasa atau klausa.
Contoh & Pembahasan
“Kami datang untuk belajar, untuk berkarya, dan untuk mengabdi.”
PembahasanPola frasa 'untuk + verba' diulang tiga kali secara sejajar dan setara.
“Baik di darat, di laut, maupun di udara, semangat juang mereka tak pernah padam.”
PembahasanFrasa keterangan tempat disusun sejajar dengan pola yang konsisten.
“Bukan dengan kekerasan, bukan dengan ancaman, melainkan dengan dialog kita selesaikan masalah ini.”
PembahasanStruktur 'bukan dengan...' diulang secara paralel untuk menegaskan gagasan.
Definisi — Gaya bahasa yang mengandung gagasan-gagasan yang bertentangan, dengan mempergunakan kata-kata atau kelompok kata yang berlawanan.
Kaidah & Ciri
- Menggunakan pasangan kata berantonim yang saling berhadapan.
- Bertujuan menegaskan kontras antara dua hal.
Contoh & Pembahasan
“Kaya dan miskin, tua dan muda, semua berhak mendapat pendidikan yang layak.”
PembahasanPasangan antonim 'kaya-miskin' dan 'tua-muda' menegaskan kesetaraan hak bagi semua kalangan.
“Suka atau tidak suka, keputusan itu harus tetap dijalankan.”
PembahasanKontras 'suka-tidak suka' menegaskan bahwa keputusan bersifat mutlak.
“Besar kecilnya usaha, semua bermula dari langkah pertama yang berani.”
PembahasanPertentangan 'besar-kecil' menyiratkan bahwa skala usaha tidak menjadi soal utama.
Definisi — Gaya bahasa perulangan bunyi, suku kata, kata, atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai.
Kaidah & Ciri
- Terdapat pengulangan unsur bahasa (bunyi, kata, atau frasa) secara sengaja.
- Memiliki beberapa jenis, antara lain epizeuksis (pengulangan berturut-turut), anafora (pengulangan di awal baris/kalimat), dan epistrofa (pengulangan di akhir baris/kalimat).
- Digunakan untuk menegaskan atau menekankan gagasan tertentu.
Contoh & Pembahasan
“Merdeka! Merdeka! Merdeka! itulah yang selalu kami teriakkan.”
PembahasanPengulangan kata 'merdeka' berturut-turut merupakan bentuk epizeuksis yang menegaskan semangat.
“Cinta adalah pengorbanan. Cinta adalah kesabaran. Cinta adalah kesetiaan.”
PembahasanPengulangan kata 'cinta' di awal tiap kalimat merupakan bentuk anafora.
“Kita bekerja untuk keluarga, kita berjuang untuk keluarga, kita hidup untuk keluarga.”
PembahasanFrasa 'untuk keluarga' diulang di akhir tiap klausa, membentuk pola epistrofa.
D.1 Gaya Bahasa Retoris (Berdasarkan Langsung Tidaknya Makna)
Gaya bahasa retoris adalah gaya bahasa yang penyimpangannya terutama terletak pada struktur kalimat, tetapi maknanya masih dapat ditelusuri dari makna denotatifnya (belum sepenuhnya berpindah makna).
Definisi — Gaya bahasa yang memanfaatkan perulangan konsonan yang sama pada awal kata secara berurutan.
Kaidah & Ciri
- Terdapat pengulangan bunyi konsonan awal pada beberapa kata berdekatan.
- Umum dipakai dalam puisi untuk menimbulkan efek bunyi/irama.
Contoh & Pembahasan
“Dara damba dendam, dendam damba darah.”
PembahasanPengulangan konsonan /d/ pada tiap awal kata menciptakan irama yang kuat.
“Kucing kurus kelaparan keliling kampung.”
PembahasanKonsonan /k/ diulang berturut-turut sehingga menonjolkan efek bunyi.
“Sunyi senyap suasana sore itu.”
PembahasanBunyi /s/ yang berulang memperkuat kesan sepi yang digambarkan.
Definisi — Gaya bahasa yang berwujud perulangan bunyi vokal yang sama untuk memperoleh efek penekanan atau keindahan bunyi.
Kaidah & Ciri
- Terdapat pengulangan bunyi vokal yang sama dalam satu baris atau kalimat.
- Biasa dipakai dalam puisi untuk membentuk rima dalam.
Contoh & Pembahasan
“Kau lalu lalang di jalang malam gulita.”
PembahasanVokal /a/ mendominasi dan berulang, menciptakan efek bunyi yang khas.
“Hati sunyi menepi sendiri.”
PembahasanBunyi vokal /i/ diulang beberapa kali sehingga menimbulkan rima dalam.
“Bulan purnama mengambang di ujung malam.”
PembahasanVokal /a/ yang dominan memberikan kesan lembut pada kalimat.
Definisi — Gaya bahasa yang diperoleh dengan pembalikan susunan kata biasa dalam kalimat, predikat mendahului subjek.
Kaidah & Ciri
- Predikat atau keterangan diletakkan di awal kalimat, mendahului subjek.
- Bertujuan memberi penekanan pada unsur yang didahulukan.
Contoh & Pembahasan
“Pergilah ia meninggalkan kampung halamannya tanpa pamit.”
PembahasanPredikat 'pergilah' diletakkan di depan subjek 'ia', menegaskan tindakan kepergian.
“Datanglah hujan deras membasahi seluruh kota.”
PembahasanKata kerja 'datanglah' mendahului subjek 'hujan deras' untuk penekanan dramatis.
“Terdiam seluruh ruangan mendengar kabar itu.”
PembahasanPredikat 'terdiam' diletakkan di awal untuk menonjolkan suasana kesenyapan.
Definisi — Gaya bahasa berbentuk pengalihan amanat dari yang hadir kepada yang tidak hadir, misalnya kepada orang yang sudah mati atau benda mati seolah dapat mendengar.
Kaidah & Ciri
- Pembicara mengalihkan pembicaraan kepada pihak yang tidak hadir secara langsung.
- Sering ditandai dengan seruan atau sapaan kepada objek/orang yang tidak ada di tempat.
Contoh & Pembahasan
“Wahai leluhurku, lihatlah negeri ini kini telah merdeka.”
PembahasanPenutur menyapa leluhur yang telah tiada seolah mereka dapat mendengar.
“Oh, lautan luas, simpankah engkau rahasia perjalanan nenek moyang kami?”
PembahasanObjek mati 'lautan' disapa langsung seakan bisa menjawab, ciri khas apostrof.
“Ibu Pertiwi, kami berjanji akan menjagamu selamanya.”
PembahasanPersonifikasi tanah air sebagai 'Ibu Pertiwi' disapa layaknya sosok yang hadir.
Definisi — Gaya bahasa yang berbentuk padat, di mana beberapa kata, frasa, atau klausa yang sederajat tidak dihubungkan dengan kata sambung, melainkan dipisahkan dengan tanda koma.
Kaidah & Ciri
- Unsur-unsur setara dirangkai tanpa kata hubung, hanya dipisah tanda koma.
- Menimbulkan kesan cepat dan padat.
Contoh & Pembahasan
“Ayah, ibu, kakak, adik, semua berkumpul di ruang tamu.”
PembahasanDeretan kata benda dipisahkan koma tanpa konjungsi, menciptakan kesan padat dan cepat.
“Ia berlari, melompat, terjatuh, bangkit lagi.”
PembahasanRangkaian kata kerja tanpa kata sambung menggambarkan gerakan yang berlangsung cepat.
“Buku, pensil, penggaris, penghapus, tersusun rapi di meja.”
PembahasanPenyebutan benda secara berurutan tanpa konjungsi memberi efek ringkas dan efisien.
Definisi — Gaya bahasa yang merupakan kebalikan dari asindeton, yaitu beberapa kata, frasa, atau klausa yang berurutan dihubungkan satu sama lain dengan kata sambung.
Kaidah & Ciri
- Unsur-unsur setara dihubungkan berulang-ulang dengan kata sambung yang sama.
- Menimbulkan efek penekanan pada tiap unsur yang disebut.
Contoh & Pembahasan
“Ia membawa tas dan buku dan pensil dan penghapus ke sekolah.”
PembahasanKata sambung 'dan' diulang pada tiap unsur untuk menegaskan kelengkapan barang bawaan.
“Kami makan dan minum dan bercanda dan tertawa sepanjang malam.”
PembahasanPengulangan konjungsi 'dan' menegaskan rangkaian kegiatan yang terus berlanjut.
“Ia menangis dan meratap dan berteriak memanggil ibunya.”
PembahasanRepetisi kata hubung 'dan' menonjolkan intensitas emosi yang digambarkan.
Definisi — Gaya bahasa yang dilakukan dengan menghilangkan suatu unsur kalimat yang dengan mudah dapat diisi atau ditafsirkan sendiri oleh pembaca/pendengar.
Kaidah & Ciri
- Salah satu unsur kalimat (subjek/predikat) dihilangkan tetapi maknanya tetap dapat dipahami.
- Umum dipakai dalam bahasa lisan atau puisi untuk keringkasan.
Contoh & Pembahasan
“Sudah makan? (subjek 'kamu' dihilangkan)”
PembahasanUnsur subjek dilesapkan karena konteks percakapan sudah jelas siapa yang dimaksud.
“Ke pasar dulu, ya. (predikat 'saya pergi' dihilangkan)”
PembahasanKalimat elips ini menghilangkan subjek dan sebagian predikat namun tetap dipahami maksudnya.
“Besok saja, kalau sempat. (subjek dan predikat utama dihilangkan)”
PembahasanKalimat singkat ini melesapkan unsur inti karena sudah tersirat dari konteks pembicaraan.
Definisi — Gaya bahasa berupa ungkapan-ungkapan halus yang dipakai untuk menggantikan ungkapan yang dirasa kasar, dianggap merugikan, atau tidak menyenangkan.
Kaidah & Ciri
- Kata kasar atau tabu digantikan dengan kata yang lebih halus namun bermakna sama.
- Bertujuan menjaga kesopanan dan perasaan pendengar.
Contoh & Pembahasan
“Kakek telah berpulang ke rahmatullah tadi malam.”
PembahasanKata 'berpulang' menggantikan kata 'meninggal' agar terdengar lebih halus.
“Perusahaan itu melakukan perampingan karyawan bulan ini.”
PembahasanFrasa 'perampingan karyawan' merupakan penghalusan dari kata 'pemecatan'.
“Ia sedang beristirahat panjang karena kesulitan ekonomi.”
PembahasanUngkapan 'kesulitan ekonomi' menghaluskan kondisi yang sebenarnya berarti 'miskin'.
Definisi — Gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan tujuan merendahkan diri, dengan mengecilkan fakta yang sebenarnya.
Kaidah & Ciri
- Pernyataan sengaja diperkecil dari kenyataan untuk menunjukkan kerendahan hati.
- Sering dipakai dalam basa-basi sosial atau pidato sopan santun.
Contoh & Pembahasan
“Silakan mampir ke gubuk kami yang sederhana ini.”
PembahasanRumah yang sebenarnya bagus disebut 'gubuk sederhana' sebagai bentuk merendahkan diri.
“Terimalah hadiah kecil ini sebagai tanda terima kasih kami.”
PembahasanKata 'kecil' dipakai untuk merendahkan nilai hadiah walau sebenarnya berharga.
“Kami hanya insan biasa yang mencoba berbuat sedikit kebaikan.”
PembahasanFrasa 'insan biasa' dan 'sedikit kebaikan' merendahkan pencapaian yang sesungguhnya besar.
Definisi — Gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang membalikkan suatu peristiwa yang logis atau kronologis, yaitu menyatakan lebih dahulu hal yang seharusnya menyusul kemudian.
Kaidah & Ciri
- Urutan peristiwa disampaikan terbalik dari urutan logis kejadian sesungguhnya.
- Menuntut pembaca menafsirkan ulang urutan waktu yang sebenarnya.
Contoh & Pembahasan
“Ia mengenakan sepatu, lalu memakai kaus kakinya.”
PembahasanUrutan yang seharusnya kaus kaki dulu baru sepatu dibalik, menampilkan histeron proteron.
“Sudah dikubur jasadnya, baru kemudian ia dinyatakan meninggal oleh dokter.”
PembahasanUrutan logis peristiwa kematian dan penguburan dibalik untuk efek dramatis atau ironis.
“Mereka merayakan kemenangan sebelum pertandingan usai.”
PembahasanPerayaan yang seharusnya terjadi setelah pertandingan selesai justru didahulukan.
Definisi — Gaya bahasa yang mempergunakan kata-kata lebih banyak daripada yang diperlukan untuk menyatakan satu pikiran atau maksud; disebut tautologi bila kata yang berlebihan itu mengandung perulangan dari kata lain.
Kaidah & Ciri
- Terdapat kata yang maknanya sudah terkandung dalam kata lain sehingga berlebihan.
- Pleonasme: pengulangan makna tanpa pengulangan kata yang sama persis; Tautologi: pengulangan kata/gagasan yang sama secara eksplisit.
Contoh & Pembahasan
“Ia turun ke bawah untuk mengambil barangnya.”
PembahasanKata 'turun' sudah mengandung makna 'ke bawah', sehingga penyebutan keduanya berlebihan (pleonasme).
“Saya sudah pernah melihatnya dengan mata kepala saya sendiri.”
PembahasanFrasa 'dengan mata kepala saya sendiri' berlebihan karena melihat sudah pasti memakai mata (pleonasme).
“Kita harus maju terus ke depan demi cita-cita bersama.”
PembahasanKata 'maju' dan 'ke depan' memiliki makna yang sama sehingga terjadi pengulangan gagasan (tautologi).
Definisi — Gaya bahasa yang mirip dengan pleonasme, yaitu mempergunakan kata lebih banyak daripada yang diperlukan, dengan maksud sebagai pengganti suatu kata dengan sebuah frasa.
Kaidah & Ciri
- Satu kata diganti dengan frasa deskriptif yang lebih panjang namun bermakna sama.
- Bertujuan memperindah atau memberi nuansa tertentu pada ungkapan.
Contoh & Pembahasan
“Ia telah tidur dengan tenang untuk selama-lamanya. (bermakna: meninggal dunia)”
PembahasanFrasa panjang menggantikan kata tunggal 'meninggal' untuk memperhalus dan memperindah ungkapan.
“Kota kembang itu selalu ramai dikunjungi wisatawan. (bermakna: Bandung)”
PembahasanSebutan 'kota kembang' merupakan frasa pengganti nama kota Bandung.
“Sang surya mulai menampakkan sinarnya di ufuk timur. (bermakna: matahari terbit)”
PembahasanFrasa 'sang surya menampakkan sinarnya' menggantikan kata sederhana 'matahari terbit' dengan lebih puitis.
Definisi — Gaya bahasa yang berupa penggunaan lebih dahulu suatu kata atau beberapa kata sebelum peristiwa yang sesungguhnya terjadi.
Kaidah & Ciri
- Menyebutkan hasil atau akibat sebelum sebab/peristiwanya benar-benar terjadi.
- Membangun rasa penasaran atau ketegangan pada pembaca.
Contoh & Pembahasan
“Aku sudah melihat bayangan kegagalan itu sebelum ujian dimulai.”
PembahasanKegagalan disebut lebih dulu sebagai antisipasi sebelum peristiwa ujian benar-benar terjadi.
“Kematian mengintainya jauh sebelum penyakit itu terdeteksi.”
PembahasanKata 'kematian' diletakkan mendahului peristiwa penyakit yang sebenarnya menjadi penyebab.
“Kemenangan itu telah terasa sejak babak pertama dimulai.”
PembahasanHasil akhir 'kemenangan' disebutkan lebih awal sebagai bentuk antisipasi terhadap jalannya pertandingan.
Definisi — Gaya bahasa berupa pertanyaan yang dipakai dalam tulisan atau pidato dengan tujuan untuk mencapai efek yang lebih mendalam, tanpa menghendaki adanya jawaban.
Kaidah & Ciri
- Berbentuk kalimat tanya, tetapi tidak menuntut jawaban dari lawan bicara.
- Bertujuan menegaskan atau menyindir suatu keadaan.
Contoh & Pembahasan
“Siapa yang tidak ingin hidup bahagia?”
PembahasanPertanyaan ini tidak membutuhkan jawaban karena maksudnya menegaskan bahwa semua orang menginginkan kebahagiaan.
“Apakah kita akan diam saja melihat ketidakadilan ini?”
PembahasanPertanyaan retoris ini bertujuan membangkitkan kesadaran, bukan meminta jawaban literal.
“Mungkinkah kita mencapai mimpi tanpa berusaha?”
PembahasanPertanyaan ini menegaskan pentingnya usaha melalui bentuk retoris yang tidak butuh dijawab.
Definisi — Gaya bahasa yang mempergunakan dua konstruksi rapatan dengan menghubungkan sebuah kata dengan dua kata lain yang sebenarnya hanya salah satu yang mempunyai hubungan makna secara gramatikal maupun logis.
Kaidah & Ciri
- Satu kata (biasanya predikat) digunakan untuk dua objek yang berbeda maknanya.
- Silepsis: kedua penggunaan tetap logis; Zeugma: salah satu penggunaan menjadi tidak logis/janggal.
Contoh & Pembahasan
“Ia melepaskan sepatu dan lelahnya di depan pintu.”
PembahasanKata 'melepaskan' dipakai untuk dua objek berbeda: 'sepatu' (konkret) dan 'lelah' (abstrak), termasuk silepsis.
“Ayah membawa koper dan harapan besar ke kota itu.”
PembahasanKata 'membawa' merangkap makna literal (koper) dan makna kiasan (harapan).
“Ia menundukkan kepala dan kesombongannya di hadapan gurunya.”
PembahasanKata 'menundukkan' dipakai ganda: secara fisik untuk 'kepala' dan secara kiasan untuk 'kesombongan'.
Definisi — Gaya bahasa yang berwujud, mula-mula hendak menegaskan sesuatu, tetapi kemudian diperbaiki atau dikoreksi sendiri oleh penutur.
Kaidah & Ciri
- Penutur menyatakan sesuatu lalu segera membetulkan pernyataannya sendiri.
- Menunjukkan proses berpikir ulang secara eksplisit dalam kalimat.
Contoh & Pembahasan
“Ia datang pukul tujuh, eh, maksud saya pukul delapan pagi.”
PembahasanPenutur mengoreksi keterangan waktu yang salah disebutkan sebelumnya secara langsung dalam kalimat.
“Buku itu berwarna merah, bukan, sebenarnya berwarna marun tua.”
PembahasanKata 'merah' dikoreksi menjadi 'marun tua' untuk memperjelas maksud sesungguhnya.
“Kita bertemu bulan lalu, ah tidak, dua bulan yang lalu tepatnya.”
PembahasanKesalahan informasi waktu diperbaiki langsung oleh penutur di kalimat yang sama.
Definisi — Gaya bahasa yang mengandung suatu pernyataan yang berlebih-lebihan, dengan membesar-besarkan sesuatu hal.
Kaidah & Ciri
- Pernyataan dilebih-lebihkan jauh dari kenyataan sebenarnya.
- Bertujuan menegaskan atau memperkuat kesan suatu keadaan.
Contoh & Pembahasan
“Suaranya menggelegar membelah langit hingga terdengar ke seluruh negeri.”
PembahasanFrasa 'membelah langit' dan 'seluruh negeri' adalah pembesaran yang tidak masuk akal secara harfiah.
“Air matanya mengalir bagai sungai yang tak pernah kering.”
PembahasanPerbandingan air mata dengan sungai menegaskan kesedihan yang sangat mendalam.
“Ia berlari secepat kilat mengejar bus yang hampir berangkat.”
PembahasanUngkapan 'secepat kilat' melebih-lebihkan kecepatan lari untuk menekankan urgensi.
Definisi — Gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada, sebenarnya mengandung kebenaran.
Kaidah & Ciri
- Pernyataan tampak bertentangan secara logika, tetapi sesungguhnya benar jika dicermati.
- Berbeda dengan antitesis karena letak pertentangannya ada pada gagasan, bukan sekadar kata.
Contoh & Pembahasan
“Ia merasa kesepian di tengah keramaian kota.”
PembahasanPernyataan tampak kontradiktif, tetapi masuk akal karena kesepian bisa dirasakan meski dikelilingi banyak orang.
“Semakin banyak ia memberi, semakin kaya hidupnya.”
PembahasanTerkesan bertentangan secara logika ekonomi biasa, namun benar dalam makna kebahagiaan batin.
“Diamnya adalah teriakan paling keras yang pernah kudengar.”
PembahasanKontradiksi antara 'diam' dan 'teriakan' mengandung kebenaran emosional yang mendalam.
Definisi — Gaya bahasa yang mengandung pertentangan dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan dalam frasa yang sama.
Kaidah & Ciri
- Dua kata yang bertentangan maknanya digabungkan secara langsung dalam satu frasa.
- Berbeda dari paradoks karena kontradiksinya terletak pada tataran kata, bukan kalimat.
Contoh & Pembahasan
“Kesunyian yang riuh itu terasa menyesakkan dada.”
PembahasanFrasa 'kesunyian yang riuh' menggabungkan dua kata berlawanan makna dalam satu ungkapan.
“Ia tersenyum dalam kepedihan yang manis.”
PembahasanKata 'pedih' dan 'manis' dipasangkan langsung meski bermakna bertentangan.
“Kegelapan yang terang itu membimbingnya menemukan jawaban.”
PembahasanFrasa 'kegelapan yang terang' menyatukan dua konsep yang saling bertentangan secara harfiah.
D.2 Gaya Bahasa Kiasan (Figures of Speech / Trope)
Gaya bahasa kiasan adalah gaya bahasa yang bertumpu pada perbandingan atau persamaan, sehingga makna kata sudah menyimpang jauh dari makna denotatifnya (makna sebenarnya).
Definisi — Perbandingan yang bersifat eksplisit, yaitu langsung menyatakan sesuatu sama dengan yang lain, ditandai dengan kata pembanding seperti 'bagai', 'laksana', 'seperti', 'bak'.
Kaidah & Ciri
- Menggunakan kata penghubung pembanding secara eksplisit.
- Membandingkan dua hal yang pada dasarnya berbeda namun memiliki kesamaan sifat.
Contoh & Pembahasan
“Wajahnya pucat bagai kertas yang tak berwarna.”
PembahasanKata 'bagai' secara eksplisit menyamakan warna wajah dengan kertas untuk menekankan kepucatan.
“Semangatnya berkobar laksana api yang tak pernah padam.”
PembahasanPerbandingan langsung antara semangat dan api menggunakan kata 'laksana'.
“Hatinya sekeras batu karang di tepi pantai.”
PembahasanKata 'sekeras' menjadi penanda pembanding eksplisit antara sifat hati dan batu karang.
Definisi — Gaya bahasa perbandingan yang bersifat implisit, tidak menggunakan kata pembanding, tetapi langsung menyatakan sesuatu sebagai hal lain.
Kaidah & Ciri
- Perbandingan dinyatakan langsung tanpa kata penghubung seperti 'bagai' atau 'seperti'.
- Berdasarkan kesamaan sifat, bentuk, atau fungsi antara dua hal.
Contoh & Pembahasan
“Dia adalah bintang kelas yang selalu bersinar dalam setiap ujian.”
PembahasanKata 'bintang kelas' merupakan perbandingan langsung tanpa kata pembanding untuk menyebut siswa berprestasi.
“Buku adalah jendela dunia bagi siapa saja yang membacanya.”
PembahasanFrasa 'jendela dunia' menyamakan fungsi buku dengan jendela secara langsung.
“Waktu adalah pedang yang akan melukai jika disalahgunakan.”
PembahasanKata 'pedang' langsung menggambarkan sifat waktu yang bisa merugikan tanpa kata pembanding.
Definisi — Gaya bahasa kiasan yang memakai kias atau perumpamaan secara utuh dalam satu cerita simbolik, biasanya mengandung pesan moral yang tersembunyi.
Kaidah & Ciri
- Berbentuk cerita atau narasi utuh yang mengandung makna tersirat.
- Unsur-unsur cerita mewakili konsep atau nilai abstrak tertentu secara konsisten.
Contoh & Pembahasan
“Kehidupan ini bagaikan perahu yang berlayar di lautan; kadang tenang, kadang diterjang badai, namun nakhoda yang bijak akan selalu menemukan pelabuhan.”
PembahasanCerita perahu dan nakhoda secara utuh melambangkan perjalanan hidup manusia dan kebijaksanaan menghadapi cobaan.
“Taman yang subur hanya lahir dari tangan yang rajin merawat setiap harinya, meski tanpa hasil yang tampak dalam semalam.”
PembahasanPerumpamaan taman dan perawatan melambangkan proses kesabaran dalam meraih kesuksesan.
“Kisah kancil dan buaya sering dipakai untuk menggambarkan kecerdikan mengalahkan kekuatan.”
PembahasanCerita fabel ini secara utuh menjadi alegori tentang akal budi yang mampu mengalahkan kekuatan fisik.
Definisi — Gaya bahasa yang menggambarkan benda-benda mati atau ide seolah-olah memiliki sifat kemanusiaan.
Kaidah & Ciri
- Benda mati atau konsep abstrak diberi sifat, tindakan, atau perasaan manusia.
- Bertujuan menghidupkan gambaran suatu objek.
Contoh & Pembahasan
“Angin malam berbisik lembut di telinga para pejalan kaki.”
PembahasanAngin digambarkan mampu 'berbisik', sifat yang hanya dimiliki manusia.
“Daun-daun menari mengikuti irama hembusan angin sore.”
PembahasanKata 'menari' memberikan sifat manusiawi pada daun yang sebenarnya benda mati.
“Mentari pagi tersenyum menyambut hari baru bagi para petani.”
PembahasanMatahari digambarkan bisa 'tersenyum' layaknya makhluk hidup yang memiliki emosi.
Definisi — Gaya bahasa yang berupa acuan yang bermaksud menyugestikan kesamaan antara orang, tempat, atau peristiwa yang disebutkan dengan yang dimaksudkan, mengasumsikan pembaca mengetahui hal yang diacu.
Kaidah & Ciri
- Merujuk pada tokoh, peristiwa, atau tempat terkenal yang sudah dikenal umum.
- Tidak menjelaskan secara eksplisit, mengandalkan pengetahuan bersama pembaca.
Contoh & Pembahasan
“Perjuangannya mengingatkan kita pada semangat Diponegoro melawan penjajah.”
PembahasanSebutan nama tokoh sejarah 'Diponegoro' mengacu pada semangat juang tanpa menjelaskan detailnya.
“Kisruh internal partai itu mirip drama perebutan takhta seperti dalam Mahabharata.”
PembahasanAcuan pada kisah 'Mahabharata' mengasumsikan pembaca memahami cerita perebutan kekuasaan tersebut.
“Ambisinya yang membabi buta membuatnya jatuh, seperti kisah Icarus yang terbang terlalu dekat matahari.”
PembahasanReferensi mitologi Yunani 'Icarus' dipakai untuk menyugestikan makna kesombongan yang berujung kehancuran.
Definisi — Gaya bahasa di mana nama seseorang begitu sering dihubungkan dengan suatu sifat tertentu, sehingga nama itu dipakai untuk menyatakan sifat tersebut.
Kaidah & Ciri
- Nama tokoh dipakai untuk mewakili sebuah sifat khas yang melekat pada tokoh tersebut.
- Bergantung pada pengetahuan umum tentang reputasi tokoh yang dimaksud.
Contoh & Pembahasan
“Kekayaannya membuat orang menjulukinya sebagai Croesus zaman modern.”
PembahasanNama 'Croesus', raja yang terkenal sangat kaya, dipakai untuk mewakili sifat kekayaan seseorang.
“Kecantikannya sering disandingkan dengan Cleopatra dari Mesir.”
PembahasanNama 'Cleopatra' dipakai sebagai simbol kecantikan luar biasa.
“Kelicikannya membuatnya dijuluki sebagai Machiavelli di kantor.”
PembahasanNama tokoh 'Machiavelli' dipakai untuk mewakili sifat licik dan penuh siasat dalam politik.
Definisi — Gaya bahasa yang menyatakan suatu sifat atau ciri khusus yang menonjol dari seseorang atau sesuatu hal, biasanya berupa frasa deskriptif.
Kaidah & Ciri
- Menggunakan frasa penjelas untuk menggantikan nama diri berdasarkan ciri khasnya.
- Sifat yang disebutkan bersifat menonjol dan mudah dikenali.
Contoh & Pembahasan
“Sang Merah Putih berkibar gagah di puncak tiang.”
PembahasanFrasa 'Sang Merah Putih' menggantikan sebutan bendera Indonesia berdasarkan ciri warnanya.
“Lautan es abadi itu menyimpan misteri Kutub Utara.”
PembahasanFrasa 'lautan es abadi' menjadi julukan khas bagi wilayah kutub.
“Raja hutan itu mengaum keras menandai wilayah kekuasaannya.”
PembahasanSebutan 'raja hutan' merupakan epitet bagi singa berdasarkan sifat dominannya di alam liar.
Definisi — Gaya bahasa yang menyebutkan sebagian untuk menyatakan keseluruhan (pars pro toto), atau menyebutkan keseluruhan untuk menyatakan sebagian (totum pro parte).
Kaidah & Ciri
- Pars pro toto: bagian dari sesuatu dipakai untuk mewakili keseluruhan.
- Totum pro parte: keseluruhan dipakai untuk mewakili sebagian dari padanya.
Contoh & Pembahasan
“Sudah tiga bulan batang hidungnya tidak kelihatan di kantor. (pars pro toto)”
PembahasanKata 'batang hidung' mewakili keseluruhan diri orang tersebut yang tidak pernah terlihat.
“Indonesia berhasil menjuarai turnamen bulu tangkis itu. (totum pro parte)”
PembahasanKata 'Indonesia' sebagai keseluruhan bangsa sebenarnya hanya mewakili tim atlet yang bertanding.
“Ada lima kepala yang belum terdaftar dalam acara itu. (pars pro toto)”
PembahasanKata 'kepala' mewakili keseluruhan orang, merupakan penggunaan bagian untuk keseluruhan.
Definisi — Gaya bahasa yang mempergunakan sebuah kata untuk menyatakan suatu hal lain karena mempunyai hubungan yang sangat dekat, misalnya nama merek untuk barang, atau nama tempat untuk hasil produknya.
Kaidah & Ciri
- Kata pengganti dipilih berdasarkan hubungan kedekatan (asosiasi), bukan kesamaan sifat.
- Sering berupa merek dagang, nama tokoh, atau bahan pembuat.
Contoh & Pembahasan
“Ayah membeli Kijang baru untuk keperluan usaha keluarga.”
PembahasanKata 'Kijang' sebagai merek dipakai untuk mewakili jenis mobil secara umum.
“Setiap pagi ia selalu menyeduh secangkir Kapal Api hangat.”
PembahasanNama merek 'Kapal Api' dipakai untuk mewakili kopi secara umum karena hubungan produk.
“Ia bekerja keras demi sesuap nasi untuk keluarganya.”
PembahasanFrasa 'sesuap nasi' mewakili makna kebutuhan hidup sehari-hari karena hubungan makna yang dekat.
Definisi — Gaya bahasa yang merupakan bentuk khusus dari sinekdoke, berupa penggunaan sebuah epitet untuk menggantikan nama diri, atau gelar resmi untuk menggantikan nama diri.
Kaidah & Ciri
- Nama diri digantikan dengan gelar, jabatan, atau sifat yang melekat pada orang tersebut.
- Berbeda dari eponim karena tidak merujuk nama tokoh lain, melainkan sifat/gelar orang yang dibicarakan sendiri.
Contoh & Pembahasan
“Yang Mulia diharap segera memasuki ruang sidang.”
PembahasanSebutan 'Yang Mulia' menggantikan nama diri hakim berdasarkan gelar kehormatannya.
“Si Jangkung selalu menjadi andalan tim basket sekolah.”
PembahasanJulukan 'Si Jangkung' menggantikan nama asli berdasarkan ciri fisik yang menonjol.
“Bapak Presiden akan memberikan sambutan sebentar lagi.”
PembahasanSebutan jabatan 'Bapak Presiden' dipakai menggantikan nama diri secara langsung.
Definisi — Gaya bahasa di mana sebuah kata tertentu dipakai untuk menerangkan sebuah kata lain, padahal secara nalar semestinya dipakai untuk menerangkan kata lainnya lagi dalam kalimat yang sama.
Kaidah & Ciri
- Kata sifat/keterangan 'dipindahkan' ke kata benda yang secara logis bukan pemilik sifat itu.
- Menimbulkan kesan puitis melalui pengalihan makna.
Contoh & Pembahasan
“Ia berjalan dengan langkah gelisah menyusuri lorong sekolah.”
PembahasanSifat 'gelisah' seharusnya melekat pada orangnya, bukan pada langkahnya, namun dialihkan secara puitis.
“Malam yang lelah itu menyelimuti kota dengan sunyi.”
PembahasanKata 'lelah' seharusnya menerangkan manusia, tetapi dialihkan pada 'malam' untuk efek gaya bahasa.
“Bantal empuk itu menyambut tidur nyenyaknya setelah hari yang panjang.”
PembahasanSifat 'nyenyak' yang seharusnya untuk 'orang yang tidur' dialihkan menjadi sifat tidurnya sendiri.
Definisi — Gaya bahasa sindiran yang menyatakan makna yang bertentangan dengan maksud sebenarnya, disampaikan secara halus.
Kaidah & Ciri
- Pernyataan yang diucapkan berlawanan dengan kenyataan yang dimaksud.
- Bersifat halus dan sering memakai pujian yang sebenarnya bermakna kritik.
Contoh & Pembahasan
“Rapi sekali kamarmu, sampai buku-buku bertumpuk di lantai.”
PembahasanKata 'rapi sekali' sebenarnya menyindir kamar yang berantakan secara halus.
“Bagus benar tulisanmu ini, sampai aku tak bisa membaca satu kata pun.”
PembahasanPujian 'bagus benar' sesungguhnya menyindir tulisan yang buruk dan sulit dibaca.
“Hebat sekali kau datang tepat waktu, padahal acara sudah usai satu jam lalu.”
PembahasanPujian 'hebat sekali' dipakai untuk menyindir keterlambatan seseorang secara halus.
Definisi — Gaya bahasa sindiran yang berupa kesangsian yang mengandung ejekan terhadap keikhlasan dan ketulusan hati, sifatnya lebih kasar daripada ironi.
Kaidah & Ciri
- Sindiran diungkapkan lebih terbuka dan tajam dibanding ironi.
- Mengandung nada meragukan ketulusan atau kebenaran suatu hal.
Contoh & Pembahasan
“Ah, aku tidak percaya kau benar-benar mengerjakan tugas ini sendirian.”
PembahasanKalimat ini secara terbuka meragukan kejujuran seseorang, lebih kasar dibanding ironi.
“Katanya rajin belajar, tapi nilainya begitu-begitu saja setiap semester.”
PembahasanSindiran ini langsung mempertanyakan ketulusan usaha belajar seseorang.
“Sok peduli lingkungan, tapi sampah masih saja dibuang sembarangan olehnya.”
PembahasanKalimat ini secara terang-terangan mengejek ketidaksesuaian antara ucapan dan perbuatan.
Definisi — Gaya bahasa sindiran yang paling kasar, berupa acuan langsung dan tidak enak didengar, bertujuan untuk menyakiti hati atau menyampaikan celaan secara terbuka.
Kaidah & Ciri
- Sindiran diucapkan secara langsung, kasar, dan tanpa basa-basi.
- Bertujuan menyakiti atau mempermalukan pihak yang disindir.
Contoh & Pembahasan
“Otakmu itu taruh di mana sampai soal semudah ini saja salah?”
PembahasanKalimat ini menyerang secara langsung dan kasar kemampuan berpikir seseorang.
“Percuma saja kau bekerja di sini, tidak ada gunanya sama sekali.”
PembahasanUngkapan ini secara terbuka merendahkan kinerja seseorang tanpa basa-basi.
“Dasar pemalas, kerja begini saja tidak becus!”
PembahasanKata 'dasar pemalas' dan 'tidak becus' merupakan celaan langsung yang menyakitkan.
Definisi — Gaya bahasa yang mengandung kritik sosial dengan menggunakan unsur ejekan atau ironi terhadap suatu keadaan atau seseorang, biasanya bertujuan memperbaiki keadaan.
Kaidah & Ciri
- Mengandung kritik sosial yang dibalut humor, ejekan, atau ironi.
- Bertujuan mengoreksi kelemahan atau kepincangan dalam masyarakat.
Contoh & Pembahasan
“Betapa hebatnya negeri ini, jalan berlubang saja dibiarkan bertahun-tahun sambil menunggu anggaran turun.”
PembahasanKalimat ini menyindir secara satire terhadap lambannya birokrasi memperbaiki fasilitas umum.
“Katanya reformasi birokrasi, tapi antre mengurus surat masih memakan waktu berhari-hari.”
PembahasanKritik sosial disampaikan dengan nada sindiran terhadap ketidaksesuaian slogan dan kenyataan.
“Kita bangga jadi bangsa besar, tapi sampah masih menumpuk di sungai-sungai kota.”
PembahasanSatire ini menyindir kontradiksi antara kebanggaan nasional dan masalah kebersihan lingkungan.
Definisi — Gaya bahasa sindiran halus dengan mengecilkan kenyataan yang sesungguhnya, sehingga kesalahan atau keburukan seseorang diungkapkan secara tidak langsung.
Kaidah & Ciri
- Sindiran disampaikan secara samar dengan memperkecil fakta sebenarnya.
- Kesalahan tidak dinyatakan terus terang, melainkan tersirat.
Contoh & Pembahasan
“Ia memang agak terlambat sedikit, hanya sekitar dua jam dari jadwal.”
PembahasanFrasa 'sedikit' dipakai untuk mengecilkan fakta keterlambatan yang sebenarnya cukup lama.
“Nilainya lumayan turun sedikit dari semester lalu, dari 90 menjadi 50.”
PembahasanKata 'lumayan sedikit' menyembunyikan penurunan nilai yang sebenarnya sangat besar.
“Rumahnya agak kurang rapi, terlihat dari tumpukan sampah di setiap sudut.”
PembahasanFrasa 'agak kurang rapi' secara halus menyindir kondisi rumah yang sebenarnya sangat kotor.
Definisi — Gaya bahasa yang berwujud penggunaan sebuah kata atau sekelompok kata yang memiliki makna kebalikan dari makna yang dimaksud, biasanya untuk membentuk suatu ironi.
Kaidah & Ciri
- Kata yang dipakai memiliki makna berlawanan dengan konteks yang sebenarnya dimaksud.
- Bergantung pada intonasi dan konteks agar dapat dipahami sebagai sindiran.
Contoh & Pembahasan
“Wah, si Kecil itu ternyata badannya paling tinggi di kelas.”
PembahasanJulukan 'si Kecil' dipakai justru untuk orang yang badannya besar, menciptakan efek ironis.
“Selamat datang, Pahlawan, atas keterlambatanmu yang keempat kalinya minggu ini.”
PembahasanSebutan 'Pahlawan' dipakai secara antifrasis untuk menyindir kebiasaan buruk seseorang.
“Sungguh rajin dirimu, baru bangun jam dua belas siang.”
PembahasanKata 'rajin' dipakai berlawanan makna untuk menyindir kebiasaan bangun terlalu siang.
Definisi — Gaya bahasa yang memanfaatkan kemiripan bunyi antara dua kata yang berbeda makna untuk menimbulkan efek jenaka atau permainan kata.
Kaidah & Ciri
- Menggunakan kata-kata yang bunyinya mirip tetapi maknanya berbeda.
- Sering dipakai untuk humor, iklan, atau permainan kata dalam judul.
Contoh & Pembahasan
“Tanam tebu di tepi kali, jangan lupa membawa tali.”
PembahasanKemiripan bunyi 'kali' dan 'tali' menciptakan efek permainan bunyi yang khas pantun.
“Jangan takut gagal, sebab gagal adalah awal dari berhasil.”
PembahasanKata 'gagal' dan 'berhasil' dipermainkan bunyinya untuk memberi pesan motivasi yang mudah diingat.
“Kasur empuk bikin ngantuk, tapi tugas menumpuk bikin mengantuk juga.”
PembahasanKemiripan bunyi kata 'ngantuk' dan 'menumpuk' menciptakan efek jenaka sekaligus menyindir kemalasan.